Anggraito Wisnu Aji, Alumni Kesejahteraan Sosial UMM yang Membangun Karier di Bidang CSR

MALANG – Perjalanan karier setiap alumni memiliki ceritanya sendiri. Bagi Anggraito Wisnu Aji, alumni Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2018, langkah setelah lulus justru menjadi awal untuk terus berkembang di dunia akademik sekaligus profesional. Setelah menyelesaikan studi sarjana di Kesejahteraan Sosial UMM, Wisnu melanjutkan pendidikan Magister Sosiologi di UMM. Di masa studinya, ia juga aktif sebagai asisten dosen sekaligus terlibat dalam lingkungan akademik bersama dosen yang saat itu menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Penelitian dan Pengabdian DPPM UMM. Semangat belajarnya membawanya meraih pendanaan hibah Tesis Magister dari Dikti pada 2023. Tak berhenti di sana, pada 2024 ia lulus sebagai mahasiswa terbaik Program Studi Magister Sosiologi. Kini, Wisnu membangun karier di bidang Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Staff CSR & ISO di PT Arah Environmental Indonesia, Bekasi. Sebelum berada di posisinya saat ini, ia telah memiliki berbagai pengalaman di bidang pemberdayaan masyarakat, mulai dari Social Mapping Intern hingga Fasilitator Program UMKM. Pengalaman tersebut memperkuat minatnya untuk terus berkontribusi pada isu sosial dan pembangunan masyarakat melalui jalur profesional. Menurut Wisnu, bekal yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Kesejahteraan Sosial UMM sangat membantunya saat memasuki dunia kerja. Pemahaman mengenai pendekatan mikro, mezzo, dan makro dalam kesejahteraan sosial, ditambah kemampuan berinteraksi dengan masyarakat, menjadi modal penting yang masih ia gunakan hingga sekarang. Baginya, salah satu pengalaman paling berkesan selama kuliah adalah saat berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Kemdikbud pada 2021. Selain itu, kesempatan terjun langsung ke masyarakat dan bertemu dengan teman-teman dari latar belakang budaya yang beragam menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya hingga hari ini. Meski demikian, Wisnu juga menyadari adanya tantangan ketika memasuki dunia kerja, terutama terkait kesenjangan antara ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dengan keterampilan teknis yang dibutuhkan di dunia profesional, khususnya di bidang CSR. Karena itu, ia banyak mempelajari berbagai pengetahuan dan skill tambahan secara mandiri setelah lulus. Ia pun membagikan pesan untuk mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM yang saat ini sedang menempuh studi. Menurutnya, ilmu kesejahteraan sosial tetap menjadi fondasi yang sangat penting. Namun, mahasiswa juga perlu mulai mempelajari keterampilan tambahan yang sesuai dengan bidang karier yang ingin dituju. “Ilmu tentang kesejahteraan sosial itu penting, tetapi skill yang dibutuhkan dunia kerja sesuai fokus karier juga tidak kalah penting. Pelajari sejak masih kuliah agar setelah lulus lebih siap menghadapi dunia kerja. Kalau ada kesempatan kerja atau magang, ambil saja, karena pengalaman itu bisa menjadi nilai tambah yang dilihat oleh recruiter,” ujarnya. Menutup wawancara, Wisnu menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM. Menurutnya, kualitas Kesejahteraan Sosial UMM akan terus meningkat seiring proses pengembangan internal yang berjalan beriringan dengan kualitas sumber daya manusianya, terutama para mahasiswa. Ia juga menyampaikan pesan singkat namun penuh makna untuk mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM: “You have to be confident, don’t feel inferior!”

Program Studi Kesejahteraan Sosial Sukses Laksanakan Kuliah Tamu Internasional, Undang Ketua Umum DPP IPSPI dan Dekan FSSK UKM

MALANG – Program Studi Kesejahteraan Sosial sukses menyelenggarakan Kuliah Tamu Internasional dengan menghadirkan akademisi dan praktisi dari Indonesia serta Malaysia untuk membahas transformasi pekerjaan sosial di era digital dan tantangan profesi pekerja sosial di Asia Tenggara. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara mengenai perkembangan pendidikan kerja sosial, tantangan profesi, hingga adaptasi teknologi dalam pelayanan sosial. Melalui forum ini, peserta mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para akademisi dan praktisi yang telah lama berkecimpung di bidang pekerjaan sosial, sekaligus memperkaya perspektif lintas negara terkait perkembangan profesi tersebut. Dr. Puji Pujiono, MSW., RSW. selaku keynote speaker menyampaikan bahwa pengembangan pelatihan dan sertifikasi kompetensi menjadi langkah penting dalam menyiapkan pekerja sosial yang profesional dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. “Pekerja sosial perlu terus memperluas perannya di berbagai sektor, termasuk pendidikan, dengan didukung kompetensi dan sertifikasi yang kuat,” ujarnya. Program Studi Kesejahteraan Sosial juga menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., yang membahas pentingnya adaptasi teknologi dalam pelayanan sosial. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pekerja sosial perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu memberikan pelayanan yang lebih efektif, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Menurutnya, transformasi pelayanan sosial tidak lagi dapat bergantung pada cara-cara konvensional, tetapi perlu bergerak menuju pendekatan digital yang lebih fleksibel, berbasis data, serta mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui layanan hybrid, baik secara langsung maupun daring. “Teknologi adalah alat untuk memperkuat pelayanan sosial, bukan menggantikan nilai kemanusiaan di dalamnya. Pekerja sosial harus mampu menguasai teknologi, bukan justru dikuasai teknologi,” ujarnya. Program Studi Kesejahteraan Sosial juga turut menjalin kerja sama dengan berbagai mitra di tingkat nasional maupun internasional. Salah satu mitra internasional tersebut adalah Universiti Kebangsaan Malaysia. Melalui kolaborasi ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial menghadirkan narasumber inspiratif dan berpengalaman, Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Bin Mohamad, Dekan Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan UKM. Dalam pemaparannya, ia menyoroti tantangan profesi pekerja sosial di Malaysia yang hingga kini belum memiliki payung hukum khusus seperti di Indonesia. Menurutnya, isu tersebut menjadi tantangan bersama di kawasan Nusantara, sekaligus menegaskan pentingnya peran pekerja sosial dalam menjaga keseimbangan sosial di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang. Kuliah tamu ini juga semakin memperkaya diskusi melalui pandangan praktisi pekerjaan sosial di Indonesia. Ketua Umum DPP Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) Jawa Timur, Lutfi J. Kurniawan, turut membagikan pengalaman serta pandangannya mengenai perkembangan profesi pekerja sosial di tengah perubahan sosial yang semakin dinamis. Dalam pemaparannya, ia menyoroti peluang sekaligus tantangan praktik pekerjaan sosial di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pekerja sosial tidak hanya berperan dalam pendampingan, tetapi juga memiliki ruang besar dalam pemberdayaan masyarakat, analisis kebijakan, hingga penelitian sosial. Menurutnya, profesi pekerja sosial perlu ditopang oleh dasar keilmuan yang kuat, perspektif yang luas, serta kemampuan membaca persoalan sosial secara kritis. Melalui Kuliah Tamu Internasional ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial berharap mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai perkembangan pekerjaan sosial di tingkat global, sekaligus semakin siap menghadapi tantangan profesi di tengah perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang terus berkembang.